Memilah Lingkaran Pertemanan
(Artikel ini saya tulis sekitar 8 tahun yang lalu, di antara tahun 2017-2019)
Jam kuliah pada hari itu telah usai, dosen segera keluar dari ruangan selagi saya merapihkan pulpen dan lembaran kertas binder.
Beberapa teman saya lalu datang menghampiri, mereka mengajak saya untuk ikut ke Margocity karena ingin mencari beberapa keperluan kampus dan sekedar nongkrong bersama.
Tapi saya hanya membalas ajakan mereka dengan tampang datar yang terkesan malas, karena pada saat itu saya sedang kecewa pada mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang memahami masalah saya dalam berkonten, saya sudah mencoba berkali-kali menjelaskan agar sekedar mendapat solusi namun tidak terlihat respon baik apapun dari mereka. Saya kecewa karena mereka bukanlah kawan yang bisa saya ajak berjuang atau bukan kawan yang mau berkembang bersama. Saya kira kami hanya menghabiskan waktu hepi hepi dan berteman hanya di waktu senang aja, susahnya tidak. Setidaknya waktu itu saya berpikir demikian.
Sepulang dari Margocity, badan saya terasa sangat lelah. Menyembunyikan sesuatu dengan cara berpura-pura tidak terjadi apapun memang banyak menguras tenaga. Saya merasa harus cari solusi untuk masalah ini.
Saya berpikir “siapa yang bisa bantu saya di kondisi kaya begini ya?” terlintas seorang wanita yang sering kali menjadi tempat curhat saya maupun orang lain. Dia adalah kak Siwy.
Saya mengenal kak Siwy dari organisasi kampus yang saya geluti, ia terkenal sebagai wanita kalem yang berasal dari jurusan psikologi dan menjabat sebagai sekretaris umum organisasi. Wajar aja kak Siwy jadi tempat curhatan anak anak organisasi yang lainnya, karena itopun suatu hal yang akan ia geluti kelak.
Saya mengambil hp lantas mengechat kak Siwy untuk janjian ngobrol di suatu tempat. Karena waktu itu saya masih semester dua dan kak Siwy satu tahun lebih tua dari saya, jadi kegiatan kami masih hanya seputar kuliah dan organisasi. Kak Siwy juga ngekos di daerah gang kapuk dekat kampus, jadi sangat mudah untuk kami bertemu.
Kak siwy meng-iya-kan ajakan saya, kami janjian di lapangan futsal kampus H yang terletak di jalan akses UI. Tanpa membuang banyak waktu, saya segera berangkat.
Selama di perjalanan dengan motor cb150r, di balik helm yang tertutup rapat saya terus berpikir dan mengevaluasi siapa saja teman yang dekat dengan saya pada saat ini. Saya sudah menyiapkan diri akan menjauhi circle pertemanan apabila mereka tidak menguntungkan atau justru malah membawa dampak buruk bagi hidup saya, tidak perduli bahwa mereka adalah teman sekelas pada saat itu.
Sembari mempertimbangkan keputusan kedepan, saya juga menyiapkan beberapa pembahasan yang akan disampaikan ke kak Siwy. seingat saya waktu itu, saya punya dua circle pertemanan di kampus yang sangat dekat. Satunya di dominasi perempuan, dan satu lagi di dominasi laki laki. Saya berpikir kedua circle ini tidak banyak menguntungkan bagi saya dalam berkonten, mereka tidak banyak berperan di perkembangan konten saya, tidak banyak menolong ataupun bermanfaat bagi perkembangan konten. Karena pada saat itu yang saya butuhkan adalah teman suportif yang dapat berpengaruh banyak dalam pertumbuhan konten.
Karena banyak yang memberi saran bahwa lingkungan pertemanan adalah cerminan dirimu, maka saya berharap punya circle yang sama-sama memiliki visi dan misi serupa, ingin punya pertemanan yang seringkali membahas masa depan daripada sekedar ketawa ketiwi menghabiskan masa muda, saya ingin punya pertemanan yang saling membangun, dan pertemanan yang berpandangan jauh kedepan. Faktanya kedua circle pertemanan saat ini, mereka hanya berbicara seputar fashion, gosip, perkuliahan, ataupun cafe cafe yang Instagramable untuk kami kunjungi. Tidak pernah mereka berbicara tentang “nanti gue gede usaha apa ya?”, Atau “hal apa yang bisa gue kerjain sekarang supaya nanti lulus udah punya bekal?”
Pokoknya pada saat itu saya sangat egois dan mau punya pertemanan yang harus begini dan harus begitu.
Setibanya di kampus H, saya berjalan menuju lapangan. Rupanya saya lupa bahwa hari ini adalah kegiatan futsal organisasi yang memanfaatkan fasilitas kampus. Setelah tos-tosan sembari menolak beberapa ajakan untuk turun ke lapangan, saya mencari kak Siwy yang rupanya sedang duduk di tribun.
Seperti biasa ia duduk kalem di pinggir lapangan dengan kacamata yang mendampingi tatapan polosnya seorang wanita. Ia tidak se-hebring dan serempong seperti anggota organisasi yang lain. Terkadang saat ia sedang berkumpul bersama dengan temannya saya menjamin ia selalu bersama dengan ke-kalemannya, di manapun tempatnya berada. Walau tatapannya tidak setajam seperti orang yang berambisi, tapi di saat rapat kak Siwy bisa sangat menyerupai Najwa Shihab dalam menyampaikan argumen atau saat mengkritisi sesuatu.
Saya menghampiri kak Siwy lalu menyapa “Hai kak”
“Oh hai Mar, Mau pindah tempat?” jawab Kak Siwy dari tempat duduknya
“Gapapa kak disini aja” lalu Saya duduk di sebelah kak Siwy
“Jadi gimana? Ayo cerita aja sama kakak”
“Saya lagi galau kak. Saya punya temen yang menurut saya mereka ada disaat seneng aja, jarang mereka mau ada disaat saya sedih. Contohnya kaya yang baru kejadian kemarin, saya lagi down bikin konten karena gada inspirasi lagi, tapi giliran saya tanya ke mereka, mereka kaya ga ngerespon. Jadi kaya cuma oh aja gitu. Setelahnya ya dilupain dan bahas hal hepi hepi ga penting lainnya. Tapi mereka temen sekelas saya kak, setiap hari ketemu mereka, sama siapalagi saya kalo ga sama mereka? Tapi kalo mereka ga bermanfaat buat saya, malah saya yang rugi nantinya.”
“Oh begitu” ucap kak Siwy singkat seakan ia sudah mengetahui solusi dari permasalahannya.
“Iya kak, saya kan juga mau punya pertemanan yang saling dukung buat masa depan. Ga cuma kaya sekarang ini, emangnya mereka ga berpikir mau jadi apa setelah kuliah? Kok kayaknya mereka cuma bahas main main dan main aja setiap hari, malah kadang matkul kuliah di nomer dua-in.”
“Kakak jadi keinget deh, waktu itu kakak juga pernah ngalamin”
“Nah terus gimana kak?” saya penasaran hingga tidak sadar mencabuti beberapa tanaman kecil yang tumbuh diantara pecahan semen Tribun
“Kakak juga pernah kaya gitu, punya pertemanan yang kayaknya engga banget, kaya gapunya ambisi buat masa depan. Pokoknya susah banget diajak buat majunya. Tapi setelah tanya sana sini, sekarang kakak udah punya solusinya. Ammar sekarang peta-in aja beberapa temen itu, kalo kakak dulu punya 3 kelompok temen yang kakak namain sebagai kelompok A, kelompok B, dan kelompok C. Tiga kelompok ini punya karakter dan tujuan yang beda, ada yang cuma main main jarang belajar dan ada yang seneng belajar sementara main mainnya kurang. Akhirnya kakak bagi bagi aja, ketika kakak butuh main kakak pasti pergi ke kelompok A, ketika kakak butuh belajar kakak bahas bareng kelompok B, dan ketika kakak butuh pembahasan lain yang ga di kuasai kelompok A dan B, kakak pergi ke kelompok C. Karena selera orang itu beda beda mar, kita ga bisa maksa habit yang udah terbentuk dari satu circle pertemanan untuk berubah, tapi kita masih bisa memanfaatkan itu.”
Saya terdiam selama Kak Siwy menjabarkan, Ia menjawab dengan keseriusan yang khas, tangannya juga ikut bergerak yang semakin membuatnya terlihat serius. Seakan gelisah saya kali ini sudah menjadi tugasnya yang sangat perlu diselesaikan.
“Misal kamu seneng bahas tentang konten ya jangan bahas sama mereka yang kurang tertarik dengan itu, pasti hasilnya kaya sekarang ini. tapi carilah pertemanan yang memang punya tujuan yang sama, yaitu yang seneng berwirausaha atau seneng ngonten. Nah, kan ga selamanya kamu ngonten kan? Maka dari itu kamu juga butuh main, jadi disaat kamu butuh main ya main lah bareng mereka. Mereka kan temen sekelas kamu sekarang, yaudah setiap istirahat main aja bareng mereka, makan bareng mereka dan bercanda bareng mereka, hindari bahas hal yang bukan tujuan dari kelompok pertemanan itu karena bakal sulit dapet solusi yang mateng. Lagian kamu lagi sumpek juga abis kuliah dan butuh refreshing, cocok banget tuh main sama mereka. Nah bahas kontennya nanti pas kamu ketemu sama circle pertemanan yang memang berorientasi dengan konten.”
Jawaban kak Siwy yang tidak terlalu panjang namun tidak singkat itu membuka sudut pandang dan pemikiran baru dalam hidup. Pandangan saya sebelumnya hanya memiliki pilihan menjauh atau lanjut tapi nge-batin dan merugi. Tapi setelah mendengar jawaban kak Siwy yang kurang lebihnya saya ingat seperti itu, membuat otak saya yang sebelumnya berkelok-kelok menjadi lurus seakan kembali berada di jalan yang benar.
Ternyata saya tidak perlu menghindari suatu circle pertemanan agar tidak merugi, saya hanya perlu memahami suatu kelompok pertemanan dan memilah mereka menjadi beberapa kebutuhan yang saya perlukan.
Bertahun-tahun setelah curhatan itu, saya tetap mengingat dan menerapkan ucapan kak Siwy. Mungkin sudah banyak circle pertemanan baru yang saya temui dan sebanyak itu pula saya membagi-bagi manfaatnya berdasarkan kebutuhan yang saya perlukan.
Semakin dewasa saya semakin diperkenalkan dengan berbagai karakteristik seseorang. Orang yang suka pamer, orang yang seneng ngomong kasar, yang suka main perempuan, merokok, jarang ibadah, intoleran, dan lain sebagainya.
Saya kenal satu kelompok teman yang sering ngomong kasar, perokok berat, suka jelalatan terhadap perempuan, dan juga jarang beribadah. Sebagai seorang yang ingin setia kepada satu wanita, tidak merokok, jarang berbicara kasar, dan berusaha tidak meninggalkan shalat. Circle itu sungguh bertolak belakang dengan prinsip saya. Namun karena ini adalah kesekian kalinya mempraktekkan saran kak Siwy, saya sudah sangat terbiasa. Saya tetap menjalin silaturahmi dengan mereka dan tetap aktif berdiskusi untuk membahas hal yang merupakan bidang dari lingkaran pertemanan tersebut. Dengan mengesampingkan segala sifat mereka yang tidak selaras dengan saya, tidak masalah mereka jarang beribadah karena jika saya ingin memperdalam ilmu agama saya tidak akan bertanya atau belajar dari mereka, tapi saya akan berkumpul bersama teman yang memang berkapasitas dalam sisi keagamaan. Ketika saya ingin rajin dalam beribadah tentunya saya akan menghindari meminta pendapat dari circle ini.
Semakin sering bertemu dengan kelompok baru, saya menjadi mudah mengambil sisi positif dan mencari kapasitas circle tersebut. Juga semakin mudah mengesampingkan sisi yang tidak sesuai sehingga tidak mudah terpengaruh oleh kebiasaan mereka yang kurang berkenan dengan prinsip saya. Mantap bukan kalo begitu? Akhirnya saya tidak lagi egois untuk menghindari berbagai circle yang saya temui berkat kak Siwy. makasih ya kak!