Jatah Makan
(Artikel ini saya tulis sekitar 6 tahun yang lalu, di antara tahun 2019-2021)
Saat jam makan siang usai kuliah pagi beberapa tahun lalu, saya dan beberapa kawan menuju warteg langganan kami. Di sana kami makan seperti biasa sambil mengobrol.
Baru sekitar sepuluh menit makanan saya sudah hampir habis, seorang teman yang biasa saya panggil “Ucup” melakukan hal tidak biasa.
Saya melihat lauk di piringnya sudah hampir habis, namun masih menyisakan potongan paha ayam yang masih padat. Saya pikir Ucup tidak menyukai ayam itu, jadi saya bertanya “Cup, ga lu abisin itu?”
“enggak” Ucapnya.
“Kenapa? Ga suka?” Tanya saya lagi. “Buat gue atau buat bocah aja sini, masih banyak banget itu.”
“Jangan! Mau gue kasih buat kucing” Jawab Ucup sembari melihat sekeliling dan kolong meja.
Saya melihat keseriusan di wajah Ucup, ia benar-benar ingin memberikan jatahnya untuk kucing yang kebetulan memang banyak di sekitar kampus.
Kemudian beberapa hari setelahnya setiap kami makan, saya memperhatikan Ucup kembali. Ia selalu menjatah porsi makanannya untuk kucing yang menurut saya porsi yang disisihkannya tidak sedikit. Malah bisa dibilang bagian untuk kucing itu sama dengan dia membeli satu potong ayam lalu hanya memakan bagian kulit dan sepotong dagingnya saja.
Ucup seorang sahabat yang saya kenal sederhana, selalu bisa menyisihkan porsi makanannya. Jujur saja saya jarang melakukan hal tersebut, saya malah berpikiran bahwa memberi makan hewan cukup hanya berupa tulang seperti yang dilakukan banyak orang.
Saya sadar hewan di sekitar juga perlu diperhatikan, bukan hanya sekedar memberi makan agar mereka tenang dan tidak mengganggu kenyamanan. Saya hanya merasa wajib memberikan makan untuk kucing peliharaan saya di rumah, tapi melupakan kucing lingkungan yang juga butuh cukup makan.
Faktanya saya belajar dari Ucup, setelah itu saya turut ikut menyisihkan setiap porsi makan yang sekiranya cukup bagi saya dan dapat pula mengisi kekosongan makhluk hidup berbulu itu. Sampai saat ini dan Inshaallah akan terus berlanjut selama saya masih hidup, saya akan selalu seperti itu.
Sebuah pelajaran berharga dari sahabat saya. Thanks, Cup.