Kembali ke tulisan
Kehidupan ·

Penempaan diri

7 menit baca

(Artikel ini saya tulis sekitar 4 tahun yang lalu, di antara tahun 2021-2023)

Satu hari sebelum kepergian Mami, pada saat itu seperti biasa saya sedang mengedit video untuk keperluan konten. Lalu kurir pengantar paket tiba dan saya pun mengambilnya ke gerbang depan. Setelah itu saya harus segera menaruh paket tersebut ke dalam kulkas supaya isinya tidak membusuk setelah melewati perjalanan dari penjual hingga tiba di rumah. Otomatis saya melewati kamar yang menjadi tempat tidur Mami selama beliau sakit.

Saya dapat melihat Mami tertidur pulas dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal, namun saya hanya merasa mami telah berhasil tertidur pulas dari yang sebelumnya beliau selalu bercerita sulit untuk tidur. Saya lega ketika melihat gerakan pada perutnya yang naik turun menandakan Mami masih bernafas.

Lalu setengah jam kemudian ketika saya sedang melanjutkan editing, Mama masuk ke kamar dalam keadaan panik. Mama bilang Mami tidak meresponnya walau sudah dipaksa bangun untuk makan. Saya berfikir sejenak. Saya masih berpikir positif. Namun nyatanya Mami memang telah tertidur pulas, lebih tepatnya Mami sudah koma pada saat itu.

Setelah mengabari sanak saudara dan diperiksa oleh dokter, esoknya mami telah tiada. Tangis kami sangat pecah pada saat itu, terlebih saya dan adik adalah cucu yang merawat Mami dua puluh empat jam selama dua bulan sebelum akhir hayatnya. Jadi kami merasa sangat kehilangan dan hampa untuk beberapa bulan setelahnya.

(Sekedar info. : Kebetulan ketika menulis ini, playlist saya memutar lagu Lemon Tree. Lagu yang mengingatkan saya pada Mami.)

Lanjut.

Pada hari ini saya pikir akan mengalami kejadian kedua kalinya. Saat saya keluar dari kamar untuk mengambil air, saya melewati kamar tidur Mami yang kini di tempati Papa. Seperti biasa saya memperhatikan bagian perut, masihkah orang tua saya ini bernafas?

Dalam beberapa detik Papa seperti tidak melakukan gerakan pernafasan, saya cukup takut awalnya. Tapi saat mengambil air saya melihat samar-samar masih ada gerakan yang membuat saya lega. Dan ketika percikan air dispenser menimbulkan suara yang cukup berisik, Papa mungkin terganggu sehingga merubah posisi tidurnya. Namun gerakan itu membuat saya semakin tenang.

Papa. Beliau adalah orang yang mengajarkan saya untuk peka terhadap dunia bela diri, karena Papa dulunya pernah menjadi guru pencak silat, maka dari itu anaknya pun harus menguasai minimal satu jenis beladiri, terlebih saya adalah anak lelaki satu-satunya.

Ketika diberi pilihan, saya memilih belajar Ninjutsu. Ninjutsu adalah seni beladiri asal Jepang yang biasa kita kenal sebagai Ninja. Pada saat itu saya memilih ingin jadi Ninja karena pakaian dan senjatanya sangat berbeda daripada seni beladiri yang lain. Maklum pada saat itu saya masih berumur 10 tahun, jadilah saya mempelajari Ninjutsu karena ingin terlihat keren.

Perjalanan saya berlatih beladiri tidak mudah, terlebih ujian kenaikan tingkatnya yang tidak diperkenankan untuk minum selama tubuh bekerja keras. Kami harus berlari di got, memanjat tembok, bersembunyi di semak-semak, memanjat pohon, bernafas menggunakan peralon ketika menyelam di dalam air, dan berbagai tantangan untuk syarat kelulusan lainnya.

Ada masanya saya yang masih kecil pada saat itu mengeluh. Tapi Papa selalu mendukung saya untuk terus berlatih. Papa mungkin tau, jika motivasi saya mempelajari Ninjutsu karena berbagai senjatanya yang unik. Maka beliau menggunakan itu sebagai penyemangat saya. Saya berlatih banyak senjata. Cara menggunakan kunai, shuriken, pedang, sumpit, double stick, Dan senjata andalan yang saya lupa namanya (setelah searching mungkin namanya Kusarigama)

Namun dari sekian banyak senjata yang saya pelajari, Papa hanya mengambil satu senjata untuk menyemangati saya.

“Nak, hidup kita itu seperti pedang” Ucapnya sembari mengeluarkan sebuah pedang dari sarungnya, lalu memperlihatkan keindahan Katana yang memantulkan cahaya lampu Dojo “Pedang sebelum jadi kaya begini, dia hanyalah besi biasa. Besi itu dibakar lalu dipukul. Pukulnya juga enggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Kamu tau habis itu gimana?”

Saya yang sedang menyimak hanya menggeleng.

“Habis dipukul, dia dibakar lagi terus dipukul lagi, dan begitulah seterusnya sampai akhirnya dibentuk dan dipoles. Mereka ditempa dulu sebelum jadi seindah ini” jawabnya kemudian memasukkan kembali pedang Katana yang biasa digunakan oleh para Samurai. “Nah, sekarang kamu lagi ada di proses penempaan itu juga. Mungkin berat latihan setiap hari, tapi nanti kamu sendiri yang bakal merasakan manfaatnya”

Ucapan yang sangat singkat, namun tertanam dalam benak saya hingga saat ini. Saya selalu membayangkan apabila harus menghadapi masalah yang berat, saya kembali mengingat proses penempaan sebuah pedang. Saya belajar dari proses tersebut dan berusaha menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Masalahnya saya adalah manusia, bukan sebuah pedang. Saya dapat melewati berbagai proses tempaan berkali-kali dalam hal berbeda.Ketika Mami meninggalkan kami, saya memang sangat sedih. Namun saya belajar dari kesedihan yang kemudian menjadikan saya belajar untuk ikhlas menghadapi kematian. Ketika usaha yang saya rintis justru memberikan kerugian, saya percaya bahwa saya sedang ditempa untuk menjadi lebih baik. Saya jadi paham mengapa saya bisa rugi, dan mengapa usaha saya tidak berjalan sesuai rencana. Ketika pendapatan saya cukup banyak namun tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan, saya juga meyakini bahwa Allah sedang menempa saya. Tuhan ingin saya belajar berhemat dan berinvestasi.

Ketika saya merasa mendapat cobaan, saya mempercayainya Tuhan sedang menempa saya. Dan saya akan menjadi sebuah pedang yang indah pada akhirnya. Proses mempercayai bahwa saya sedang ditempa, membuat saya dapat bertahan dalam banyak rintangan hidup. Saya merasa mendapat banyak kemajuan setelah mengalami berbagai permasalahan.

Manusia selalu mendapat cobaan, maka dari itu saya juga akan menjadi pedang yang semakin indah.

Dari ruang tulis, dengan sederhana.