Kembali ke tulisan
Kehidupan ·

Momentum

15 menit baca

(Artikel ini saya tulis sekitar 5 tahun yang lalu, di antara tahun 2020-2023)

Beberapa orang berkata bahwa dirinya memiliki kepribadian introvert sehingga merasa sulit berkarya yang memerlukan validasi publik, hal tersebut membuat mereka mengesampingkan kekuatan publisitas. Sementara apabila semakin banyak orang yang mengetahui eksistensi karya Anda, semakin bernilai pula usaha dan kerja keras yang telah Anda lakukan. Minimal karya tersebut bisa dinikmati masyarakat meski diri Anda tetap anonim, walhasil menjadi sumber pendapatan yang kemudian memberi Anda segala kebutuhan yang lebih baik agar Anda bisa hidup dari karya.

Saya adalah seorang introvert, dari kecil dikenal sebagai anak pemalu, tidak ingin terlalu sering bertemu orang lain, dan merupakan bocah yang lebih senang menghabiskan waktunya sendirian terutama di depan komputer. Sifat itu tetap bertahan hingga saat ini. Namun masih banyak anak muda yang mendefinisikan introvert sebagai pemalu yang tidak memiliki keberanian untuk bersosialisasi. Sementara saya meyakini bahwa Introvert adalah seseorang yang lebih cepat terkuras energinya ketika bertemu orang banyak jika dibandingkan dengan para ekstrovert, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengisi energi itu kembali dengan cara menyendiri.

Ketika mengetahui definisi introvert sebenarnya, setelah masa SMA yang banyak saya habiskan dengan kenyamanan bermain game tanpa prestasi dan pencapaian apapun, saya bertekad keluar dari zona nyaman dan menjadikan masa kuliah sebagai momentum untuk memperluas relasi dan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan orang banyak. Maka dari itu sejak semester pertama, saya menjadi bagian dari organisasi kampus. Saya sengaja ingin melatih diri agar mampu menyeimbangkan kebutuhan sosialisasi dari rasa ingin menyendiri.

Menjadi anggota organisasi memiliki pengertian bahwa saya akan sering bertemu dengan orang banyak, tugas tambahan di luar matkul, dan mendapat tanggung jawab selain kewajiban kuliah. Bahkan pada awal masuk organisasi, saya langsung menghadapi pelantikan yang menguras waktu, tenaga, dan pikiran selama empat hari. Saya bertahan dan berusaha tetap semangat meski rasa ingin pulang dan menyendiri sangat menggebu-gebu, tekad saya lebih kuat daripada alasan apapun demi meningkatkan kualitas diri. Usai dari sana saya memiliki berbagai tugas yang harus diselesaikan secara berkelompok selama dua tahun. Kepanitiaan telah menjadi asupan saya sehari-hari demi menyempurnakan tanggung jawab pada Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam masa aktif, saya terlibat pada pilihan-pilihan yang menjadi penentu keberanian berbicara di depan umum dan mempelajari kepemimpinan. Suatu ketika seorang mahasiswa asal kampus mengalami penyakit langka namun belum mendapatkan penanganan serius karena terkendala panjangnya birokrasi. Maka kami menggelar rapat agar dirinya segera mendapat pertolongan, namun terdapat satu hal yang tidak saya sangka, bukan hanya organisasi kampus saya yang terlibat, beberapa organisasi kampus lain turut ikut serta yang kami sebut sebagai aliansi. Dan setelah mempersiapkan segala kebutuhannya, kami menggelar unjuk rasa di depan lembaga pemerintahan untuk meminta hak mahasiswa tersebut, sampai akhirnya suara kami terdengar setelah beberapa perwakilan mahasiswa dipanggil untuk berdiskusi. Selain itu saya juga pernah terlibat dalam perjanjian mahasiswa dengan pemimpin rakyat daerah baru di kota saya yang menjadi pengalaman saya berorasi pertama kalinya. Dan dipenghujung akhir sebagai mahasiswa, saya turut ikut meramaikan demonstrasi di depan Kompleks Parlemen pada tanggal 19 September 2019.

Meski energi seorang Introvert seperti saya terbatas, saya memiliki tekad yang bisa meredam perasaan zona nyaman itu selama beberapa saat. Seusai kegiatan dan evaluasi terlaksana, saya baru menyempatkan waktu untuk menyendiri dari kebisingan kota dan juga kewajiban organisasi sampai merasa siap kembali.

Menjadi pribadi introvert bukanlah halangan yang bisa dijadikan alasan agar Anda tidak bertumbuh. Pada era digital seperti saat ini cara berkomunikasi jauh lebih mudah dari sebelumnya, jika Anda selalu menjadi orang yang menolak untuk berubah, Anda akan tertinggal jauh dari mereka yang sudah terlatih berinteraksi sosial dan mampu melakukannya setiap waktu. Suka atau tidak suka, setiap orang wajib mengasah kemampuan menjalin relasi yang baik antar manusia, lantaran kemampuan interaksi sosial dan menjalin relasi tidak memiliki hubungan dengan pribadi introvert, kedua hal tersebut adalah skill yang perlu dilatih terus menerus bagi siapapun termasuk untuk si ekstrovert. Sebab ketika Anda mulai berkonten atau bekerja suatu saat nanti, Anda akan merasakan manfaat baik darinya yang akan Anda temukan dari berbagai contoh kasus di sepanjang tulisan saya kedepan.

Menyadari dan menetapkan kapan momentum yang akan Anda pilih merupakan langkah terbaik untuk keluar dari zona nyaman. Saya memilih kuliah sebagai momentum karena lingkungan baru yang pastinya akan jauh berbeda daripada masa SMA. Jika saya menetapkan berubah saat itu juga, ketika SMA, kawan-kawan yang telah melihat saya sebagai peyendiri dan gamers autis selama tiga tahun lamanya cenderung akan meremehkan usaha yang saya lakukan lantaran tidak semua orang akan mengindahkannya. Saya akui akan timbul beberapa orang yang meremehkan atau enggan menghormati keputusan saya yang pada akhirnya akan membuat saya menjadi pesimis. Namun meski banyak kawan SMA mendaftar ke universitas yang sama, saya merasa lebih yakin untuk memanfaatkan lingkungan baru sebagai tempat terjadinya perubahan. Saya cenderung memilih berkenalan dengan kawan baru yang berasal dari berbagai daerah yang tidak mengetahui bagaimana masa lalu saya, apakah saya seorang pendiam atau orang yang memiliki banyak energi untuk berteman.

Pemikiran untuk berubah ini tidak terjadi dalam semalam, pemicu utama terjadi ketika saya menonton sebuah film entrepreneur berjudul “Top Billionaire” dan kemudian membuat saya menjadi gemar mengonsumsi film bertema usaha lainnya. Dari sana saya mulai mengenal Steve Jobs, Bill Gates, Elon Musk, Jack Ma, Chris Gardner, Jordan Belfort, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, P.T. Barnum, dan tokoh berpengaruh lainnya.

Sewaktu kecil ketika banyak menghabiskan waktu sendiri, saya senang berimajinasi dan membayangkan apabila saya menjadi hewan atau benda benda di sekitar. Misalnya, ketika saya melihat seekor semut, lalu saya menutupnya dengan gelas berwarna hitam solid, maka saya akan membayangkan sudut pandang dari semut tersebut yang berada di dalam kegelapan. Berbeda jika saya menutupnya dengan gelas berkaca bening, saya akan menjadi semut tersebut yang berada di tengah kaca besar sesuai dengan komposisinya serta pantulan cahaya dan diri saya sebagai manusia yang terlihat dari dalam gelas. Dan begitupula ketika saya memainkan imajinasi saya dari berbagai sudut pandang hewan lainnya, terutama saya menyukai menjadi burung yang terbang di udara yang saya proyeksikan senyata mungkin.

Namun imajinasi terkadang cukup menganggu, saya sering membayangkan sudut pandang hantu meskipun saya tidak bisa melihat mereka. Ketika hendak masuk ke kamar yang gelap, saya berspekulasi bahwa terdapat hantu yang menunggu saya di atas lemari atau sedang bersembunyi di belakang gorden. Saya membayangkan sudut pandang hantu tersebut dan melihat diri saya sendiri dari sana. Saya juga membayangkan detail bentuk, tekstur kulit, wajah, hingga kotoran di pakaian yang membuat saya menjadi cemas dan takut. Hal tersebut berlangsung hingga saya kuliah. Meski tidak separah saat masih kecil, namun rasa khawatir akan kehadiran makhluk halus selalu mengikuti saya kemana dan di mana saja.

Hingga pada akhirnya ketika seorang kawan saya bersama beberapa kenalannya hendak membuat video uji nyali, saya berseteru dalam pikiran. Saya merasa ikut bersama mereka merupakan momentum terbaik untuk menghadapi ketakutan selama ini, saya perlu mengatasi kecemasan atas proyeksi berlebihan, setidaknya membuat kedua hal itu tidak menganggu kehidupan saya lagi. Terlebih perjalanan kami akan lebih aman karena mereka telah terbiasa hunting ke tempat-tempat angker pada tengah malam. Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung.

Pada malam itu saya merasakan ketakutan yang sangat luar biasa, walaupun begitu, saya mencoba berjalan sendirian ke tengah hutan yang tidak memiliki pencahayaan sama sekali selain lampu flash dari ponsel. Saya merasa banyak yang memperhatikan dari ketinggian di atas pohon, terkadang saya merasa ada seseorang yang berdiri di balik punggung, dan merasakan sedang ditatap dari kejauhan. Pikiran saya campur aduk, saya bisa melihat diri saya sendiri dari bayangan perasaan tadi. Bulu kuduk saya merinding, darah dalam tubuh saya seperti bergemericik layaknya air soda di dalam botol yang terbuka setelah mengalami guncangan, dan beberapa kali saya merasakan aliran listrik dari kaki hingga naik ke ubun-ubun.

Usai dari sana, layaknya orang yang pernah mengalami pertempuran hebat lalu melihat pertikaian kecil di sudut kota, saya menjadi lebih berani daripada sebelumnya. Saya tidak lagi terlalu cemas dengan keberadaan makhluk halus, meski tetap bisa memproyeksikan dengan jelas, namun saya menjadi lebih mudah untuk tidak menghiraukannya. Bahkan ketika saya membaca novel pada malam hari, saat bagian yang membuat saya tertawa dengan keras, meski terdengar suara lain sementara saya hanya sendirian, saya tidak lagi terlalu memperdulikan dan memilih melanjutkan bacaan. Sementara jika itu terjadi sebelum saya ikut uji nyali, saya pastikan akan menutup novel lalu berlindung di balik selimut dengan perasaan was was sampai pagi hari.

Saya tidak akan pernah menyesali keputusan yang saya buat pada hari itu, justru akan sangat disayangkan apabila melewatkan momentum tersebut.

Setelah memanfaatkan berbagai momentum untuk perubahan, pada akhirnya saya tetap seorang introvert yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan menyendiri, namun pribadi dan pengalaman saya telah jauh meningkat.

Saya memiliki satu cerita lagi, sebagai seorang yang bekerja untuk diri sendiri, tidak ada siapapun yang bisa menginterupsi kapan waktu saya untuk bekerja maupun bersantai. Hal tersebut sempat membuat waktu tidur saya berantakan, saya memproduksi konten pada malam hingga pagi hari lalu tidur sampai siang mendekati sore. Saya menyadari telah menjalani pola hidup yang tidak sehat, namun tanpa saya sadari, hal tersebut berlangsung selama lebih dari satu tahun.

Pola tidur yang berotasi membuat saya rindu pada susana pagi hari yang tidak saya dapatkan apabila terjaga penuh semalaman, oleh sebab itu saya mencari cara terbaik agar saya bisa menerapkan pola hidup normal kembali. Awalnya saya mencoba tidur lebih cepat mulai dari pukul delapan malam namun gagal lantaran saya tidak merasakan kantuk meski telah meminum obat tidur. Akhirnya saya nekat untuk tidak tidur selama lebih dari 24 jam, ketika saya bangun pada pukul dua siang, saya tidak akan tidur sepanjang malam, pagi, pukul dua siang lagi, dan malam kembali, selama itu pula saya menghindari tempat tidur dan berbagai hal penyebab kantuk. Namun usaha merubah pola tidur tidak lantas langsung membaik, saya gagal beberapa kali ketika saya tidak sengaja tertidur di lantai kamar. Jika melihat catatan pola tidur saya waktu itu, saya mengalami lima kali kegagalan dalam dua minggu, jika saya gagal, maka esok harinya saya kembali mengulang tidak tidur selama lebih dari 24 jam. Hingga pada akhirnya setelah satu bulan bertarung, saya berhasil kembali tidur normal. Senang rasanya kini bisa menikmati dinginnya sinar matahari pagi sambil membaca buku.

Perubahan dalam diri saya bisa terjadi hanya tinggal menunggu kapan saya akan melakukannya, ketika menyadarinya, maka saya akan lebih peka terhadap momentum yang datang entah secara mendadak layaknya kawan saya yang ingin uji nyali, atau melalui persiapan panjang seperti menunggu kelulusan SMA. Bahkan momentum tersebut bisa saya munculkan sendiri setelah menyadari rasa rindu pada suasana pagi hari.

Saya memahami untuk merubah diri tidaklah mudah, terkadang saya merasa tidak mampu lantaran berbagai faktor internal maupun eksternal. Sebelum menetapkan akan masuk organisasi, melakukan uji nyali, dan tidak tidur selama 24 jam lebih, saya telah menangani berbagai kemungkinan yang bisa mengagalkan rencana. Misalnya ketika berjaga untuk tidak tidur, saya telah menjelaskan kepada keluarga dan orang terdekat yang sering berinteraksi dengan saya, alasan mengapa mereka tidak boleh menghubungi atau mengharapkan sesuatu dari saya selama beberapa waktu. Apabila mereka tetap ingin bertemu, saya telah memberikan peringatan untuk dipahami bahwa saya akan menjadi lebih sensitif daripada biasanya.

Setiap perubahan memiliki berpedaan pemicu, momentum, dan kondisi. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk berdialog dengan diri sendiri, mempersiapkan tekad, menjabarkan langkah konkret dan menentukan momentum, agar rencana dapat terwujud dengan resiko kegagalan yang lebih rendah.

Dari ruang tulis, dengan sederhana.