Kembali ke tulisan
Perspektif ·

Mencari Makna

5 menit baca

(Artikel ini saya tulis sekitar 3 atau 5 tahun yang lalu, di antara tahun 2021-2023)

Beberapa hari lalu saya mendapat pembahasan menarik dari Story Instagram seorang teman. Kurang lebih dia membagikan pengalamannya berpindah dari suatu kelompok ambisius ke perkumpulan manusia let it flow, menerima hidup sebagaimana mestinya tanpa terlalu memaksakan kehendak untuk merubah takdir. Dia terlihat bangga dengan perubahan teman barunya, akan tetapi kelompok yang ditinggalkan seakan memiliki kesan tidak lebih baik.

Membaca tulisan itu, membuat saya teringat pada proses pencarian pribadi tentang makna kehidupan di dunia ini. Sejak sekolah menengah atas, saya adalah seorang bocah yang selalu percaya diri ingin menjadi pengusaha. Saya gemar mengonsumsi film-film entrepreneur, mendengar berbagai motivasi dari internet, dan mempelajari berbagai pengetahuan yang seorang pengusaha butuhkan. Pada saat itu saya berpikir tidak ada lagi tujuan di dunia selain menjadi pengusaha, menorehkan nama dalam sejarah, dan dikenal oleh seluruh masyarakat karena penciptaan produknya yang luar biasa. Layaknya Steve Jobs, menorehkan namanya sebagai pendiri perusahaan Apple yang tidak akan pernah terlupakan.

Lagipula semua perkembangan di dunia ini diawali oleh ambisi seorang pengusaha, setidaknya para penemu yang memiliki jiwa pengusaha berhasil menciptakan suatu alat yang mampu merubah pola kehidupan manusia, maupun membuat sebuah produk kebutuhan untuk sekedar menghidupi kegiatan masyarakat sehari-hari.

“Saya ingin menjadi pengusaha, tidak ada tujuan yang lebih mulia selain itu” setidaknya dulu saya berpikir begitu.

Namun pada suatu hari, lupa entah dari mana, kemungkinan besar dari forum Kaskus, saya tidak sengaja membaca opini dari sebuah akun yang berkata kurang lebih seperti ini:

Ah, saya mah lebih enak jadi karyawan. Berangkat, pulang, main sama keluarga, tiap bulan terima gaji. Gaperlu mikirin perusahaan di luar jam kantor, jadi bos secara gak langsung kita harus kerja terus, pusing. Mending jadi karyawan aja, kalau perusahaan bangkrut ya pindah.

Membaca tulisannya itu cukup mematahkan pemikiran saya, ternyata ada orang yang gak mau jadi pengusaha ya? saya mengira semua orang pasti mau jadi pengusaha, setidaknya mereka bekerja saat ini untuk menabung ketika hendak memulai usahanya sendiri.

Sejak saat itu saya mulai mencari jawaban tanpa mencari pembenaran, saya berusaha tidak fanatik pada satu sudut pandang dengan menyalahkan pola pikir dari akun tersebut. Saya mencoba untuk membuka diri dengan menyadari berbagai hal di sekitar, melalui para pedagang yang telah berjualan selama puluhan tahun namun tetap bertahan dengan satu gerobaknya, seorang seniman yang hidup sederhana dengan karya yang hanya disimpannya, guru pengajar sekolah dasar di pelosok kampung, preman yang mengabdikan diri di terminal, anggota band yang hidup untuk bermain musik, dan berbagai jenis orang dengan pilihan hidupnya masing-masing.

Ketika saya membandingkan seorang pedagang yang mengabadikan dirinya pada satu gerobak selama puluhan tahun tanpa karyawan dengan pengusaha yang mampu membuka puluhan cabang dalam waktu kurang dari satu tahun, saya menemukan jawaban dari mulut seorang penjual bubur kacang ijo keliling langganan saya itu, bahwa ia sudah merasa cukup dengan kegiatannya saat ini, toh apa yang dirinya lakukan sanggup menyokong kedua anaknya sampai lulus kuliah, melebihi pendidikannya.

Lalu ketika saya membandingkan seorang seniman yang hanya menyimpan karya ciptaannya dengan seniman yang berhasil sukses menjual karya-karyanya ke jenjang internasional, saya mendapatkan jawaban bahwa ia membuat karya untuk kenikmatan dirinya sendiri, ia tidak berambisi untuk terkenal, jadi kenapa harus “sukses” bila saat ini beliau sudah bisa menikmatinya?

Dari ruang tulis, dengan sederhana.