Kembali ke tulisan
Perspektif ·

Di balik komentar negatif

18 menit baca

(Artikel ini saya tulis sekitar pertengahan tahun 2022)

Awal tahun 2022 saya mengomentari satu postingan yang viral. Gundam milik sorang pemuda diambil oleh keponakannya saat dirinya tidak di rumah, lalu pemuda itu menghubungi Saudari perempuannya untuk meminta pertanggung jawaban karena menimbang harga Gundam yang tidak murah apalagi bukan mainan untuk anak kecil. Namun realita tidak sesuai harapan, Saudarinya yang ia panggil sebagai Bunda itu justru menyepelekan dan sewot seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya. Bunda seakan mewajari perilaku anaknya sebagai hal biasa dan menyalahkan balik pemuda tersebut hingga memperlebar permasalahan hingga ke keluarga besar.

Reaksi netizen semuanya mengutuk perilaku Bunda karena tidak mendidik anaknya dengan baik, bukannya sadar diri, Bunda malah terbakar emosi.

Namun saya melihat, seharusnya kejadian mereka bisa berakhir lebih baik, saya memahami bahwa pembelaan Bunda terhadap anaknya adalah perilaku tidak baik, bukan satu hal yang patut dicontoh. Akan tetapi saya melihat cara si Pemuda melakukan komunikasi seperti layaknya orang yang sedang menginterogasi, terlalu cepat menuduh, dan berakhir menyindir tanpa memikirkan tujuan utamanya, yaitu agar Gundamnya kembali.

Pemuda itu mengeluarkan kata-kata tuduhan seperti mengambil barang tanpa izin merupakan tindakan pencurian dan kalimat superior berupa ia adalah penentu keputusan di rumah tersebut karena ia satu-satunya pria di sana yang otomatis membuat jiwa seorang ibu-ibu terbakar amarah.

Saya tidak bilang tuduhannya salah, hanya saja menuduh seseorang yang terbukti salah hanya akan memicu reaksi defensif dari orang lain. Terlebih tuduhan tersebut ditujukan pada seorang ibu-ibu yang berusaha membela anaknya meskipun salah.

Lantas saya berkomentar bahwa seharusnya keadaan bisa lebih baik apabila Pemuda itu menurunkan egonya sedikit dengan cara melakukan komunikasi yang lebih sopan demi tercapainya tujuan yang ia ingin.

Saya lebih senang mengontrol keadaan yang memiliki hasil akhir sesuai dengan harapan yang saya harapkan, maka apabila saya berada di posisi si Pria dan mengetahui karakteristik orang yang saya hadapi, saya memilih untuk menurunkan ego terlebih dahulu, berusaha agar tidak menyulut tindakan sembrono dari Bunda agar Gundam milik saya tidak rusak, lalu memintanya mengembalikan. Setelah tujuan saya tercapai, dan telah meminimalisir resiko kehilangan dan kerusakan pada Gundam, baru saya menegur perilaku dari si Bunda. Itu pun kalau masih peduli setelah tercapainya tujuan saya.

Ternyata reaksi Netizen terhadap postingan saya sangat beragam, banyak yang setuju dan lebih banyak lagi yang tidak setuju. Saya lalu memperhatikan beberapa manusia yang tidak setuju, kebanyakan dari mereka terbakar emosi dan berharap bisa memberi pelajaran langsung tanpa mempertimbangkan kendali Gundam yang masih berada dalam kuasa orang lain.

Mereka lebih menginginkan jika ada orang yang berbuat kesalahan ke dirinya, harus langsung diberi pelajaran, jika perlu melakukan kekerasan fisik lebih baik. Sementara saya kurang sependapat dengan tindakan seperti itu karena meluapkan emosi hanya membuat diri saya menjadi lelah dan tujuan saya belum tentu akan tercapai. Dan apabila tercapai, terlanjur terjadi keributan atau minimal terdapat kerusakan entah pada Gundam atau kerusakan hubungan keluarga yang bisa mengurangi kenikmatan setelah masalah terselesaikan.

Lalu beberapa Netizen secara terang-terangan berkata bahwa argumen saya sangat bodoh dan tidak masuk akal. Bahkan terdapat seseorang yang rela membuat thread khusus untuk mengejek saya.

Saya pun hanya mewajarinya dan menganggap komentar tersebut sebagai pembelajaran untuk melatih kesabaran saya dalam menanggapi perbedaan pendapat. Lagipula saya menyadari bahwasannya Netizen tidak memedulikan hal apapun selain mengutuk Bunda yang tidak bertanggung jawab dengan tingkah anaknya. Jadi meskipun saya merasa benar, saya juga menyadari orang lain berhak memiliki opini mereka masing-masing.

Hingga saat ini saya masih mengingat tiga kalimat dari orang lain, walau mereka tidak membenci saya, namun saya menganggapnya bukan berupa ucapan enak untuk didengar. Ketika saya telah membuat sekitar lima belas video kuliner dan mengunduhnya di instagram, seorang teman kampus bertanya saat kami berpapasan “lu gabut ya bikin video begituan?” dengan wajahnya yang berkesan mengolok. Lalu beberapa bulan kemudian ketika nongkrong bersama beberapa teman sekolah menengah, seorang kawan penasaran pada konten saya, meski ia memang senang berkomedi dari mengejek orang lain, dia berkata pada konten saya yang pada saat itu sudah cukup mendapat traffic dan follower. Katanya “Malah eneg gue liatnya” lalu tertawa seakan kerja keras saya tiada artinya. Dan terkahir, berupa ucapan meremehkan dari seseorang yang merasa hidupnya telah mapan dari usaha milik orang tuanya sementara saya harus berjibaku dengan panas matahari untuk membuat konten.

Pada saat itu saya belum kebal terhadap opini orang lain, saya pemula yang membutuhkan pujian dan dukungan dari orang-orang sekitar. Saya belum siap menerima komentar penolakan atau diremehkan, menjadikan ucapan ketiga orang tadi tertanam dalam pikiran saya.

Kemudian saya berpikir, apabila saya ingin menjadi konten kreator maka saya harus terbiasa menanggapi komentar-komentar seperti ini. Namun saya harus menemukan penawar agar tidak terlalu memikirkan dan mengetahui alasan-alasannya. Setelah melewati proses panjang, saya menemukan tiga alasan untuk tidak terlalu lagi acuh pada komentar jelek, yaitu:

Semua orang tidak berada dalam kondisi dan mood yang sama pada satu waktu

Kita semua menjalani hidup tidak melulu merasakan kenikmatan. Manusia yang telah bebas finansial, karir bagus, keluarga harmonis dan hidupnya telah terjamin pun suasana hatinya bisa seketika memburuk ketika tidak sengaja menginjak kotoran hewan hingga meninggalkan jejak di sepatu putihnya atau karena kendaraan yang mogok saat terlambat datang ke pertemuan penting. Suasana hati setiap manusia tidak pernah sama dalam satu waktu, ketika seseorang mendapat hari yang buruk, orang lain justru sedang merasakan hari terbaiknya di saat itu juga. Ada yang baru ditinggal wafat keluarganya atau baru merasakan galaunya putus cinta sementara orang lain baru mendapatkan suatu kebahagiaan dalam hidupnya. Dunia seakan berhenti bagi mereka yang diliputi kesedihan mendalam di saat semua manusia terus bergerak dengan perasaannya masing-masing. Dan sikap orang lain menanggapi suatu hal juga sangat bebeda, ada yang jarang marah meskipun hatinya sedang berantakan dan ada juga manusia yang selalu melimpahkan umpatan ke orang lain meskipun suasana hatinya sedang baik.

Maka dari itu saya tidak terlalu memedulikan orang yang rela menuliskan komentar buruk di postingan karena saya berusaha memahami mungkin ia sedang mengalami kesulitan dalam hidupnya, sementara orang yang sedang merasakan perasaan serupa ada banyak jumlahnya.

Jika mengansumsikan bahwa orang normal akan merasakan hari buruk satu kali dalam sebulan, maka apabila saya memiliki seratus dua puluh ribu pengikut, saya berkemungkinan akan menghadapi empat ribu manusia (120.000/30 = 4.000) yang bisa dengan mudahnya menuliskan komentar buruk di postingan saya pada hari itu jika mereka tidak menyukainya. Atau jika hanya berasumsi satu persen dari total follower saya ituyang pasti menuliskan komentar negatif, maka mereka berjumlah empat puluh orang. Nilai yang masih terhitung banyak apabila saya hanya memposting satu video baru dalam satu hari.

Tidak paham kalau mereka tidak paham

Saya senang mempelajari perilaku manusia dan sering bertanya pada diri saya sendiri, menebak-nebak apa alasan di balik orang tersebut ketika melakukan suatu tindakan. Begitu pula yang saya lakukan ketika ingin mengetahui jawaban mengapa orang bisa dengan mudahnya menulis komentar buruk pada karya atau tentang orang lain yang tidak dikenalnya. Saya mencoba bertanya pendapat pada banyak orang di bidang tertentu tentang suatu hal yang bertolak belakang dengan pengetahuannya, misalnya bertanya tentang kasus selebgram ke ojek online atau menanyakan opini seorang pedagang kaki lima tentang perilaku seorang tokoh partai politik. Saya tidak berkata bahwa saya si paling tau banyak hal, pada saat itu saya hanya memperhatikan dan berbicara sesuai alur pembicaraan tanpa memicu perdebatan meskipun pendapatnya berbanding terbalik dari pendapat para profesional yang telah saya pelajari dari berbagai sumber.

Meski bukan bidang yang mereka geluti, banyak dari mereka yang percaya diri beropini tanpa mempertimbangkan berbagai faktor yang tidak mereka ketahui namun meyakini bahwa pendapatnya adalah kebenaran. Terutama ketika saya selalu menyetujui tanpa menginterupsi, membuat mereka semakin asyik mengeluarkan gagasannya. Mendadak saya seperti berhadapan dengan para ahli dan pakar, padahal dalam sebulan kebelakang belum tentu mereka pernah mendengar topik yang sedang kami bahas. Hanya sedikit dari mereka yang enggan untuk berpendapat karena menyadari dirinya tidak terlalu memahami topik pembahasan kami.

Jika lebih banyak orang yang percaya diri pada pendapatnya meski tidak berdasar daripada yang sadar diri, hal tersebut membuat saya ngeri ketika membayangkan pada lingkup lebih luas seperti melihat dari jumlah total penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta jiwa atau penduduk dunia yang terdiri dari 7 miliar manusia. Saya sangat memaklumi mengapa banyak terjadi debat kusir di internet.

Sengaja mencari kesenangan

Saat kuliah saya memiliki seorang teman yang cukup dekat. Saya mengenalnya sebagai pribadi pendiam yang tidak banyak berbicara dan tidak terlalu senang berdebat. Namun pada suatu hari ketika kami berkumpul bersama kawan lainnya dan membicarakan fenomena fake account, teman saya bercerita bahwa ia memiliki satu akun dengan identitas palsu khusus untuk berkomentar sembarangan. Ketika saya tanya alasannya, ia hanya menjawab terkadang ketika sedang bosan ia hanya ingin mencari kesenangan dari mempermainkan obrolan orang-orang yang terpancing emosinya. Saya kaget mendengar pernyataannya, seorang kawan yang saya kenal kalem di dunia nyata belum tentu akan bersikap sopan pula di internet. Selain karena mudahnya melakukan komentar buruk, ia semakin berani melakukan itu karena berlindung di belakang identitas palsu.

Lalu karena pada saat itu saya berada di jurusan teknik mesin yang di dominasi laki-laki. Saya selalu mengamati saat kami kumpul bersama, terutama ketika sebagian besar tongkrongan sedang bercanda pada satu topik, mereka bisa bertingkah sembrono untuk dijadikan bahan tertawaan. Misalnya ketika kami membuka situs omegle, kawan saya bisa dengan mudah mengolok orang random yang dihadapkan dengan kami tanpa memedulikan perasaan dari orang tersebut. Padahal kawan saya tidak melakukan olokan secara serius karena semata terbawa suasana.

Hal tersebut menyadarkan saya bahwa banyak komentar hate di internet yang dilakukan dengan sengaja sekedar untuk mencari kesenangan dan mereka justru semakin terhibur ketika mendapat respon sama buruknya dari orang lain.

Tidak kenal dekat = tidak peduli

Semua manusia pada dasarnya adalah orang baik, namun terdapat pengecualian pada orang yang tidak mereka kenal. Sekelompok geng motor memiliki solidaritas tinggi dengan sesama anggota, namun bisa jadi teror bagi kelompok geng motor lainnya. Ojek online bisa menjadi teman apabila kita penumpang, namun bisa juga menjadi ancaman apabila kita terlibat masalah dengan salah satu dari mereka. Bermasalah dengan satu ojek online terkadang memiliki arti kita akan menjadi lawan dari lebih banyak ojol di sekitar. Meski kita tidak bisa menyamaratakannya karena pasti ada juga manusia yang berusaha bersikap netral, tidak membela orang yang salah hanya karena ia kenal dengan orang tersebut. Memang ada, tapi jumlahnya tidak banyak.

Mental saya semakin kuat setelah menyadari empat alasan di atas, komentar buruk menjadi tidak terlalu penting untuk saya tanggapi karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan tersebut. Tertutama seiring dengan jumlah view dan follower yang terus bertambah, semakin banyak orang berkomentar aneh hingga ancaman via DM, saya semakin terbiasa. Namun ada kalanya saya mendengarkan kritikan yang bisa menjadi bahan evaluasi agar saya tetap ingat bumi dan berkembang.

Pada tahun 2016 ketika youtuber rapper dan seorang wanita selebgram mendapatkan sensasi di internet, mereka terkesan angkuh dan menganggap netizen hanya membenci pencapaian mereka, sehingga mereka terlihat sangat tidak memedulikan komentar orang-orang dan melanjutkan konten sesuka hati. Setidaknya itu yang saya pahami pada saat itu. Namun karena saya tidak mengenal mereka dan tidak mengetahui fakta sebenarnya, maka saya hanya mengamati tindakan yang dilakukan kedua orang tersebut serta perilaku netizen. Lalu saya menemukan sebuah komentar dari seorang publik figur yang terus saya ingat sampai sekarang, kurang lebih begini katanya “Haters yang membenci tanpa alasan memang ada, tapi kalau sudah terlalu banyak, mungkin ini saatnya kamu introspeksi diri”

Tidak lama setelahnya, pada suatu hari ketika saya terlalu sering memposting pendapat pribadi di internet saat saya belum terlalu terbiasa pada komentar buruk orang lain. Seorang teman yang tidak begitu dekat, mungkin karena suasana hatinya sedang tidak baik, dia berkomentar yang membuat saya sangat tertohok. Saya terus memikirkan ucapannya yang pada saat itu saya anggap sebagai komentar kebencian. Namun setelah saya mengkaji lebih dalam dan berintrospeksi diri, saya kembali menyadari, meski cara penyampaiannya membuat saya tidak nyaman, ternyata pendapatnya memiliki makna baik yang bisa saya ambil. Saya menyadari bahwa saat itu saya seakan “sok ngartis” karena merasa memiliki kekuatan akibat pengikut yang terus bertambah banyak setiap harinya, saya menjadi angkuh seakan saya adalah orang penting dan pendapat saya akan menjadi nasib buruk bagi banyak manusia jika tidak disampaikan. Faktanya saya hanyalah seorang mahasiswa yang baru berkonten. Sementara banyak konten kreator, publik figur, dan artis yang memiliki lebih banyak pengikut dan telah lebih lama berkecimpung di dunia internet yang lebih berpengaruh, cenderung memilih diam. Tidak besar kepala seperti apa yang saya lakukan.

Dari ruang tulis, dengan sederhana.